Thursday, September 8, 2011

Sunday, June 5, 2011

Penasaran Akan Iga Bakar Mas Giri

Ehem, Bismillah. Udah lama banget deh ini ya gak nulis or share cerita di blog. Secara Twitter sekarang ini bisa dengan cepet jadi saksi bisu tiap curhatan kita-kita dalam 160 karakter.
Okay, so here the story i wanna share.
Ceritanya gini, gw dan Nacil (temen seperjuangan gw dikosan) penasaran banget pengen nyobain Iga Bakar Mas Giri yang ada di jl. R.E. Martadinata (Jl. Riau) di seberangnya Taman Pramuka. Entah kenapa tiap kesana waiting list mulu cyin, jadi aja deh baru kesampean kemaren ini.
Gw dan Nacil akirnya pesen Iga Bakar dengan ukuran besar karena yg medium sudah habis. Yaudahlahya dengan harga Rp 29,000 gw berharap banyak kalo rasanya bakal ngalahin iga bakar lainnya.
Lumayan lama sih nunggunya, karena gw dateng pas jam makan malam sekitar setengah 8 malem gitu which is rame (aja) dan masih kebagian tempat duduk untungnya.
Wah, makin aja tuh gw kaya dikasih harapan kan yah udah lama, harga mahal, banyak yang dateng juga kesitu. Hmmm dan ini dia akhirnya datang juga si Iga Bakar porsi besar.
Dan yak pemirsa rasanya *jengjeng* pedes banget kebanyakan lada. Kecewa. Porsi besarnya juga gak besar besar amat loh. Ga kebayang yang medium kaya gimana. Trus ya karena gw juga gak suka sambel, jadi gw gabisa review si sambal ulek ijonya itu. Tapi kata si Nacil sih ya (dia gilak sambel nih) sambelnya sih oke-oke aja tapi ya itu, lada di iga nya kebanyakan.
Bagusnya sih ya, Iga Bakar Mas Giri ini ada sup-nya isi sayur yang meskipun cuma seiprit tapi ya gapapalah kan maksudnya baik yah temen temeeeen supaya netral abis makan daging.
Oke deh, segitu aja reviewnya. Intinya sih ya, buat yang penasaran sama Iga Bakar Mas Giri silahkan mencoba. Saran gw sih pilih yang besar aja porsinya. Mungkin bisa minta tanpa lada juga. Trus hindari datang di jam makan malam, kalo bisa sih earlier or later gitu.
Kalo gw mungkin hanya sekali aja ke tempat makan ini. Lebih prefer Iga Bakar Jangkung hehehehe.
Salam, Makan-makan!

Sunday, November 21, 2010

Late Surprise for Placetya


16th November 2010 is when Andy Prasetya turned 21! Yeaaayy!
Well, he's not that excited in term of welcoming the new age hahaha that's why i made a little late surprise for him on 19th Nov '10 so i could make his day :)

The cake? Wait, i didn't buy him fancy cakes instead of stack of breads inside a box then put 21 candles on it. Sounds extraordinary right?
So here, i hoped that this little gift from me is extremely unforgettable..
Oh iya! Almost forget! I'd like to thank Nacil, MasSay, Eji, Lala and Jija for their support in making this surprise.
And for my cungkling boy Placetya, i'm wishing you a very blessing days over the years ahead! Amin!


Loves,
Itha

Wednesday, November 10, 2010

Bougenville-Tales :)


"Makan mie goreng aja deh, udah akhir bulan nih" atau "Assseeekkk, ada yang ulangtahun nih! Lumayan deh ga keluarin duit buat makan!"
Well, for you guys living in a "home" called KOSAN, those sayings are really common things! We're here surviving in each month from the pocket money our parents give. But that's the art of Nge-kos and i can assure you when everyone of us growing old followed by succeed and prosperity (amin) those memories won't be erased.....
Aiiih, cengeng banget deh yaaa. Kalo gitu langsung aja gw kenalin Kosan Hebat gw yang located on Jl. Adyaksa Barat no. 9 Sukapura, Dayeuh Kolot, Bandung. This cool kosan named "Bougenville" i don't know why Bogel, the owner, put that name. Because Boygenville is the name of my previous home in Jakarta hahaha sounds funny when i found out my kosan got same name.
This Kosan consists of 22 rooms with 22 members in it. Ada yang dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Palembang bahkan Riau! Hmmm lumayan kalo abis lebaran banyak oleh-oleh mampir di kosan yang punya kolam ikan gurame ini hihihihi ;)
Actually, i consider the members as my family! Yes, family! Kita udah dekeeeet banget as if brothers and sisters! I bet there's no Kosan like mine!
Curhat sampe nangis, ketawa sampe bego, makan sampe kekenyangan bahkan nyebur kolam bareng kalo lagi ada yang ulangtahun (even yang cewe-cewe ga diceburin hehe). Wah, so many stories of this Bougenville. i would write the whole weeks or maybe months to tell the Bougenville-tales hihihi lebay :)
So, i gotta tell you that Lala, Rere, Nacil, Tiara, Una, Pancil, Eji, Ujo, Tyo, Jija, Bogel, Bao, MasSay, Andre, Edo, Desfan, Ahong, Kiki, Anton and Suhay make my days in Bougenville-Tales!


*PS: Will see the next post of Bougenville-Tales


Hugs and Kisses,
Itha

Sunday, November 7, 2010

Youth Careness


Good evening! Wah wah wah udah lama banget gw ngga nulis di blog yang actually at first cuma untuk tugas kampus aja. Ternyata setelah ngelewatin buanyaaak banget rintangan dan cobaan di dunia luar sana (duileeeh, le to the bay) gw kepikiran untuk start posting something in my blog.
Well, starting from my recent activity today aja yah.. (7 november 2010)
Gw hari ini dibuat kagum and surprised, karena apa? okay, let's flashback from this morning!
Gw kebetulan diminta tolong untuk nge-MC alias jadi pembawa acara di sebuah acara kampus which called "Service Project the Power of Rupiah, Global Peace Volunteer Institus Manajemen Telkom, Living for the Sake of Others" (next, gw singkat jadi Service Project) ya ya ya namanya cukup panjang memang. Tapi, waktu bacain nama acaranya gw dibantu oleh seorang partner MC gw yang bernama Ayu mahasiswi IMT dari Broadcasting 2009.
Peserta yang hadir sekitar 50 orang, berasal dari beberapa universitas antara lain Universitas Pasundan, Institut Teknologi Telkom, Politeknik Telkom and off course the host Institut Manajemen Telkom. Lokasi acaranya di Desa Lengkong, well sebenernya sih perbatasan antara Sukabirus dan desa Lengkong, Dayeuh Kolot, Bandung.
Acaranya apa aja? Dari banyaknya peserta yang hadir, dibagi ke dalam 9 kelompok. Masing-masing dibagi menjadi:
1. Unit kebersihan, bertugas recovery lingkungan sekitar desa dengan membersihkan sungai cikapundung kemudian kawasan PGA dan lingkungan bekas banjir.
2. Unit Menghibur anak-anak kecil, bertugas memberikan games berunsur pendidikan tentang kebersihan dan pemberian merchandize berupa buku gambar dan alat tulis.
3. Unit Masak-memasak, bertugas menyiapkan makanan untuk seluruh peserta. Masaknya dibantu oleh ibu-ibu setempat di rumah ketua RW.
Wah, sounds very fun right? Antusiasme para peserta terlihat ketika semua serentak mengantri makan siang. Hehehehe nggak juga sih sebenernya. Gimana ngga antusias? Beberapa peserta bahkan celana jinsnya terkena noda akibat "nyemplung" ke got untuk membersihkan bagian dalam. Wow! bayangin aja, masih ada loh kaum muda yang segitu pedulinya sama lingkungan! Hebatnya lagi, para peserta rela bangun pagi dan membantu warga sekitar. Salut untuk para peserta deh!
What i learn from this event is, kalau kita mau membantu sesama ngga harus dengan menjadi relawan di daerah bencana seperti yang akhir-akhir ini bedatangan. Lingkungan terdekat kita-pun masih banget butuh perhatian dari kita para kaum terpelajar.
So, be green and help others. Then we can live for the sake of others :)
Keep reading and writing!

Monday, November 23, 2009

Centralized Bandung Tourism



Dimana wisata belanja yang menarik? Saya yakin kebanyakan warga kota besar di Indonesia serempak menjawab “Bandung”. Terbukti dengan toko – toko fashion di kota kembang ini yang tidak pernah sepi pengunjung terutama di akhir pekan, mulai dari tempat belanja kaki lima dengan harga yang murah sampai dengan factory outlet dan butik dengan sajian kualitas barang kelas bintang serta harga yang nyaris setinggi langit. Kualitas dari semua barang fashion yang terdapat di kota Bandung memang tidak perlu diragukan lagi, ide – ide kreatif dari warga Bandung memang sangat inovatif dan cenderung berbeda dari yang lain. Tidak heran jika label “kreatif” telah melekat bagi masyarakat Bandung.
Dari kesemua hal positif tentunya memiliki sisi negative pula, begitu juga halnya dengan kota Bandung yang tidak pernah sepi pada akhir pekan. Kemacetan di beberapa pusat perbelanjaan tidak bisa dihindari. Mungkin kelalaian dari pemerintah daerah akan tata letak menjadi kelemahan kota Bandung. Kenyamanan belanja yang didapatkan ketika berbelanja tidak sebanding dengan kemacetan yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan terutama warga Bandung sendiri. Lokasi perbelanjaan yang relative jauh dari satu tempat ke tempat lainnya pun menjadi kendala untuk para wisatawan yang ingin berbelanja. Selain tidak hemat dari segi transportasi, waktu pun terbuang sia – sia karena macet.
Oleh karena itu, ada solusi yang mungkin bisa menjadi masukan bagi pemerintah kota Bandung. Menurut saya, tidak ada salahnya jika dibuat sentralisasi wisata belanja di kota ini. Sebagai contoh, Jl. L.L.R.E Martadhinata yang terkenal dengan deretan factory outlet (FO) nya bisa dijadikan pusat factory outlet. Sehingga wisatawan bisa berjalan kaki dari satu FO ke FO lainnya. Supaya menarik, jalanan tersebut dilengkapi dengan trotoar yang luas bagi pejalan kaki dan dihias dengan lampu – lampu, tanaman hijau, dan tempat duduk. Serta dibangun gedung parkir bertingkat bagi para pengendara mobil, sehingga sepanjang deretan FO hanya bisa dinikmati oleh para pejalan kaki. Kita ambil contoh bahwa sentralisasi ini sudah dilakukan yaitu di kota Jakarta. Di daerah Kemang, Jakarta Selatan, dijadikan pusat cafĂ© dan restaurant. Sehingga pengunjung bisa berjalan kaki dari satu resto ke resto lainnya. Jika sentralisasi ini terwujud, sangatlah banyak manfaatnya. Selain menghemat biaya transportasi wisatawan, polusi pun dijamin berkurang. Selain itu, mata pengunjung dimanjakan dengan hiasan di pinggiran jalan. Bisa juga diadakan pameran atau diskon barang – barang yang bisa menarik pengunjung. Dengan adanya sentralisasi seperti ini memudahkan pemerintah kota dan pengelola toko dalam aspek pengelolaan. Karena mereka tidak perlu lagi mengecek toko yang dikelolanya dengan harus bepergian ke berbagai lokasi yang berjauhan. Kemacetan pun dapat diminimalisasikan, dan yang paling utama semua warga bisa menikmati wisata dengan nyaman.
Untuk wisata kuliner bisa di sentralisasi di kawasan Dago pakar misalnya. Karena daerahnya yang berbukit dan cenderung tinggi menjadikan kawasan ini masih sejuk dan pastinya menjadikan nilai tambah bagi para pengunjung yang ingin bersantap makan. Apalagi kawasan dago pakar menyajikan pemandangan alam yang sangat indah. Lampu – lampu di perkotaan Bandung bisa terlihat dari Dago pakar ketika malam hari.
Kita menyadari tidak semua wisatawan memiliki kendaraan pribadi, oleh karena itu tidak ada salahnya disediakan angkutan khusus wisatawan yang bisa mengantar dari pusat perbelanjaan sampai ke tempat wisata kuliner. Angkutan tersebut bisa berupa bus tingkat dengan atap terbuka, sehingga wisatawan bisa menikmati segarnya udara kota Bandung dan sekaligus melihat pemandangan di sepanjang jalan. Usulan ini bisa menekan tingkat kemacetan kota Bandung, karena wisatawan akan lebih tertarik menggunakan angkutan khusus yang unik ini dan menjadikan pengalaman tersendiri.
Jika kita boleh menengok sedikit ke Negara tetangga, mereka telah melakukan sentralisasi wisata lebih dulu. Sebut saja Singapore yang sangat terkenal dengan Orchard Road nya, terdiri dari sederetan kawasan belanja dan juga Mal. Para wisatawan sangat menikmati berjalan kaki di trotoar yang luas di bawah pepohonan yang rindang dan udara yang sejuk. Kita pun tidak direpotkan dengan sulitnya mencari parkir untuk kendaraan. Antrian taksi pun sudah disediakan di beberapa titik. Apalagi dengan tersedianya transportasi seperti MRT di bawah tanah yang bisa mengantar kita ke tempat perbelanjaan lainnya yang lokasinya agak jauh. Terowongan bawah tanah pun bisa menghubungkan kita dengan tempat belanja di seberang jalan. Selain itu, di Singapore juga terdapat bus tingkat dengan atap terbuka yang disebut dengan Singapore Sightseeing yang menjadi daya tarik para wisatawan.
Alternative lain pun akan bermunculan seiring dengan perwujudan solusi untuk mengatasi kemacetan di kota Bandung. Tapi menurut saya, sentralisasi merupakan solusi yang baik jika dilihat dari segi manfaat yang sangat banyak. Kemacetan pasti akan menurun dan juga polusi berkurang. Selain itu, wisatawan pun bisa menghemat biaya transportasi dengan adanya amgkutan khusus untuk menjelajahi lokasi wisata.

Friday, May 29, 2009

saving the future by saving the children



As we know, the bright future is only reachable by credible people. And it is not that simple to build a strong foundation to produce that credibility. The children from the now generation can make it, our future is in their hands. So, we have to start by giving the children around the world good education and to be certain taking a really good care of them! As the result, the bright future will be as bright as the sunrise....


xoxo, Vitha